Seminar Kurikulum Berbasis Cinta Dorong PTKIS Wujudkan Pembelajaran Berdampak

Bekasi, 27 Juni 2026 – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di lingkungan Kopertais Wilayah II Jawa Barat didorong untuk mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai paradigma baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. H. Muhammad Jaenuddin, M.Ag., M.Pd., Sekretaris Bidang Akademik Kopertais Wilayah II Jawa Barat, dalam seminar bertajuk “Model Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta Berdampak pada PTKIS Wilayah II Jawa Barat” yang diselenggarakan di STIT Hidayatunnajah Bekasi pada Sabtu (27/6).

Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Jaenuddin menjelaskan bahwa lahirnya Kurikulum Berbasis Cinta merupakan respons Kementerian Agama Republik Indonesia terhadap berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi bangsa, seperti meningkatnya kekerasan, intoleransi, perundungan, serta menurunnya kepedulian sosial di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu membentuk karakter peserta didik melalui nilai-nilai kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab sosial.

Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan gagasan transformasi pendidikan yang dikembangkan di seluruh ekosistem pendidikan di bawah Kementerian Agama, mulai dari madrasah, pesantren, perguruan tinggi keagamaan Islam, hingga satuan pendidikan keagamaan lainnya. Kurikulum ini menempatkan nilai mahabbah atau cinta sebagai landasan dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan mampu melahirkan lulusan yang religius, humanis, nasionalis, peduli lingkungan, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Lebih lanjut, pemateri menegaskan bahwa implementasi KBC dibangun melalui tiga dimensi utama, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam. Pada dimensi spiritual, peserta didik diarahkan untuk menginternalisasikan nilai-nilai ibadah melalui syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji sebagai fondasi pembentukan karakter. Sementara itu, pada dimensi sosial dikembangkan sikap saling menghormati, toleransi, empati, kejujuran, serta kepedulian terhadap masyarakat. Adapun pada dimensi ekologis, mahasiswa didorong untuk memiliki kesadaran menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Sebagai landasan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, pemateri mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.” Hadis tersebut menjadi pijakan bahwa pendidikan harus mampu menumbuhkan rasa kasih sayang kepada seluruh makhluk tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun budaya.

Selain memperkenalkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta, seminar juga membahas pentingnya membangun Impactful Curriculum atau kurikulum yang berdampak. Menurut Dr. Muhammad Jaenuddin, keberhasilan pendidikan tinggi tidak lagi hanya diukur dari capaian akademik mahasiswa, tetapi juga dari perubahan perilaku, karakter, serta kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, seluruh proses pembelajaran harus dirancang agar menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial.

Implementasi kurikulum tersebut, lanjutnya, harus dimulai dari perubahan paradigma dosen. Pembelajaran tidak lagi dipandang sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai proses membangun manusia yang utuh melalui pengembangan ilmu pengetahuan, akhlak, spiritualitas, dan kepedulian sosial. Perubahan paradigma tersebut kemudian diwujudkan dalam sistem akademik melalui penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), metode pembelajaran, asesmen, hingga proyek-proyek pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

Sebagai contoh implementasi, mata kuliah Perencanaan Pembelajaran dapat diarahkan pada penyusunan dan simulasi RPP berbasis Kurikulum Berbasis Cinta, mata kuliah keagamaan dapat dikembangkan melalui proyek kepedulian sosial, mata kuliah sejarah dapat menekankan refleksi keteladanan tokoh, sedangkan mata kuliah ilmu sosial maupun sains dapat mengintegrasikan nilai-nilai etika lingkungan dan tanggung jawab sosial.

Melalui seminar ini, diharapkan seluruh PTKIS di lingkungan Kopertais Wilayah II Jawa Barat dapat mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara nyata dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi. Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter mulia, semangat pengabdian, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan.

Silahkan Share